Pengertian ruh
Dalam bahasa Arab kalimat ruh mempunyai banyak arti. Di
samping kata روح (ruh) ada kata ريح(rih) yang
berarti angin dan روح (rawh) yang berarti rahmat. Ruh dalam bahasa Arab disebut
jiwa, nyawa, nafas, wahyu, perintah dan rahmat. Jika dalam bahasa Indonesia
kata rohani digunakan untuk menyebut lawan dari dimensi jasmani, maka dalam
bahasa Arab kalimat )رحانيون-روحانىruhaniyun-ruhani) digunakan untuk menyebut semua jenis makhluk
halus yang tidak berjasad, seperti malaikat dan jin.
Kata ruh dalam al-quran disebutkan sebanyak 24 kali,
masing-masing terdapat dalam 19 surah yang tersebar dalam 21 ayat. Dalam tiga
ayat ruh berarti pertolongan atau rahmat Allah, 11 ayat berarti Jibril, satu
ayat bermakna wahyu atau al-quran, lima ayat lainnya berhubungan dengan aspek
atau dimensi psikis manusia.
Ruh mempunyai dua arti. Pertama, ruh berkaitan
dengan tubuh yang erat hubungannya dengan jantung, beredar bersama peredaran
darah. Kalau darah sudah tidak beredar dan jantung berhenti berdetak, maka ruh
pun hilang. Dalam hal ini ruh dalam bentuk jasmani yang terikat dengan jasad. Kedua,
ruh disamakan defenisinya dengan hati yaitu lathifah rubbaniyah ruhaniyan.
Dalam hal ini ruh dapat merasakan penderitaan atau kebahagian. Orang Indonesia menyebutnya
dengan jiwa.
Ruh menurut al-Ghazali mengandung dua pengertian.
Pertama, tubuh halus (jisim lafif), yaitu nyawa. Berjalan dan
bergeraknya nyawa pada batin seperti bergeraknya lampu pada sudut-sudut rumah
yang digerakkan oleh penggeraknya. Kedua, yang halus dari manusia, yang
mengetahui dan merasa.
Menurut al-Raghib al-Asfahaniy, di antara makna ruh
adalah nafs (jiwa manusia). Makna di sini adalah dalam arti dimensi atau
aspek; adalah bahwa sebagian aspek atau dimensi jiwa manusia adalah ruh. Sedangkan
Ibnu Zakaria menjelaskan bahwa kata ruh dan semua kata memiliki kata aslinya
terdiri dari huruf ra, waw, ha, mempunyai arti besar, luas, dan
asli. Makna itu mengisyaratkan bahwa ruh merupakan sesuatu yang agung, besar,
dan mulia, baik dari nilai maupun kedudukannya dalam diri manusia. Dengan
adanya ruh dalam diri menyebabkan manusia tersebut makhluk yang istimewa, unik,
dan mulia. Inilah yang disebut dengan khalqan akhar (QS. Al-Mu’minun:
14)
Istilah khalqan akhar mengisyaratkan bahwa manusia
berbeda dengan makhluk lainnya, seperti
hewan, karena dalam jiwanya terdapat dimensi ruh. Proses perkembangan
fisik dan jiwa manusia dalam ayat tersebut sama dengan binatang. Tapi, semenjak
datangnya ruh pada manusia, maka manusia tersebut menjadi lain. Karena ia
mempunyai ruh.
Perbedaan ruh dengan nafs
Menurut M. Quraish Shihab, bahwa dengan ditiupkannya ruh,
maka manusia menjadi makhluk yang istimewa dan unik, yang berbeda dengan
makhluk lainnya. Sedangkan nafs juga dimiliki oleh makhluk lain, seperti
orang hutan. Dengan kata lain, nafs bukanlah unsur yang menjadikan
manusia menjadi unik dan istimewa. (QS. Al-Hijr: 29)
Dalam QS. Al-Mu’minun: 14 dapat dipahami bahwa sejak
terjadinya pembuahan antara sperma dengan sel telur, maka kehidupan telah
dimulai. Karena ia telah hidup, maka ia memiliki nafs. Sebab setiap yang
hidup memiliki nafs atau nyawa.
Segala sesuatu yang hidup diciptakan berasal dari air.
Air adalah sumber kehidupan (QS. Al-Anbiya’: 30/ QS. Al-Furqan: 54). Secara
biologis air itu (air mani) berkembang melalui beberapa tahapan, yaitu: nuthfah,
‘alaqah, mudghah, izam, dan khalqan akhar. Adanya pertumbuhan dan
perkembangan tersebut secara logika cukup membuktikan bahwa kehidupan sudah
ada, walaupun pada tahap permulaan. Kehidupan ini tercipta sebagai konsekuensi
logis penciptaan fisik manusia. Jadi, dengan diciptakannya fisik manusia, maka
dengan sendirinya akan tercipta kehidupannya. Pada tahap ini nafs belum
memiliki dimensi ruh, ‘aql, dan qalb. Pada saat ini nafs memiliki
kesamaan dengan nafs yang ada pada binatang. Setelah nafs manusia
menerima ruh, barulah ia menjadi makhluk yang berbeda dengan binatang.
Namun, dalam perspektif nafs, ruh menjadi faktor
penting bagi aktifitas nafs manusia ketika hidup di muka bumi ini, sebab
tanpa ruh manusia totalitas tidak dapat lagi berfikir dan merasa.
Datangnya ruh
Nafs telah ada sejak nuthfah dalam konsepsi, sedangkan
ruh baru diciptakan setelah nuthfah mencapai kondisi istiwa’. Ruh
sebagai kekuatan yang berasal dari Allah yang ditiupkan ke jasad manusia saat
berusia 120 hari. Ruh yang dimensinya jauh lebih tinggi dari akal ini sudah ada
sebelum manusia dilahirkan dan terus ada setelah manusia meninggal (setelah
meninggal maka ruh dipindahkan ke alam baqa, untuk mempertanggungjawabkan
perbuatannya kepada Allah).
Setelah mengalami perkembangan yang sempurna dan lahir ke
dunia, maka nafs yang telah memiliki ruh itu memiliki kesiapan untuk
menerima daya sam’u, absar, dan af’idah, yang merupakan
sarana-sarana bagi ‘aql dan qalb untuk memperoleh pengertian dan
pemahaman.
Hakikat ruh
Struktur ruh memberikan ciri khas dan keunikan tersendiri
bagi psikologi Islam. Ruh merupakan substansi psikologis manusia yang menjadi
esensi keberadaannya. Ruh membutuhkan jasad untuk aktualisasi diri. Walaupun
kita meyakini pada diri kita ada ruh (tak kasatmata/ invisible) seperti
halnya kita meyakini raga, akal dan lain-lain. Tapi, sampai saat ini belum ada
yang memahami hakikat ruh secara pasti, karena ruh merupakan misteri ilahi bagi
sains umumnya dan psikologi khususnya. Dalam al-Quran dalam surah al-Isra’: 85
tRqè=t«ó¡our Ç`tã Çyr9$# ( È@è% ßyr9$# ô`ÏB ÌøBr& În1u !$tBur OçFÏ?ré& z`ÏiB ÉOù=Ïèø9$# wÎ) WxÎ=s% ÇÑÎÈ
Artinya: dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh
itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit".
Ini menjelaskan bahwa ruh merupakan urusan atau hanya
dipahami oleh Allah. Manusia sama sekali tidak memahaminya kecuali sedikit.
Karakteristik ruh:
·
Ruh berasal dari Allah, dan bukan berasal dari
tanah/ bumi.
·
Ruh adalah unik, tak sama dengan akal budi, jasmani,
dan jiwa manusia. Ruh berasal dari Allah itu merupakan sarana pokok untuk
munajat kehadirat-Nya.
·
Ruh tetap hidup sekalipun seseorang tidur/
tidak sadar.
·
Ruh dapat menjadi kotor dengan dosa dan noda,
dan bersih bila bertaubat/beramal sholeh.
·
Ruh karena sangat lembut dan halusnya
mengambil “wujud” serupa dengan “wadah” nya, paralel dengan zat cair, gas, dan
cahaya yang “bentuk” nya serupa dengan tempat ia berada.
·
Tasawuf mengikut sertakan seseorang beribadah
kepada Allah.
·
Tasawuf melatih untuk menyebut kalimat Allah
tidak saja sampai pada taraf kesadaran lahiriah, tapi juga tembus ke dalam alam
rohaniah. Kalimat Allah yang termuat dalam ruh itu pada gilirannya dapat
membawa ruh itu sendiri ke alam ketuhanan.
Ruh
ketika berada dalam tubuh, tidak sama dengan keberadaan air dalam gelas. Bila
gelas tersebut pecah, maka air yang di dalamnya akan tumpah.
Ruh
bukanlah hal yang demikian. Apabila seseorang manusia meninggal dunia atau
apabila tubuh manusia itu hancur, maka ruhnya tetap utuh, tidak kurang suatu
apapun. Ruh merupakan rahasia Allah SWT. Ruh tidak dapat diketahui atau
dipelajari oleh siapa pun, sekalipun oleh para nabi dan rasul.
Ruh sebagai dimensi spiritual psikis manusia
Aspek jasmaniyah bersifat nyata (berbentuk, berkembang
dan lain-lain), sedangkan aspek ruhaniyah bersifat spritual (karena ia
merupakan potensi luhur batin manusia). Fungsi ini muncul dari dimensi ruh atau
spiritual (sisi jiwa yang memiliki sifat-sifat ilahiyah dan memiliki daya untuk
menarik dan mendorong dimensi-dimensi lainnya untuk mewujudkan sifat-sifat Allah
dalam dirinya). Ini berarti ruh adalah aspek psikis (jiwa) yang bersifat
spiritual dan transendental. Bersifat transendental karena mengatur hubungan
manusia yang maha tinggi.
Dimensi psikis manusia yang langsung dari Allah adalah
dimensi ruh. Dimensi ruh ini membawa sifat-sifat dan daya-daya yang dimiliki
oleh sumbernya, yaitu Allah. Khalifah Allah dapat berarti mewujudkan
sifat-sifat Allah secara nyata dalam kehidupannya di bumi untuk mengelola dan
memanfaatkan bumi Allah. Tegasnya bahwa dimensi ruh merupakan daya
potensialitas internal dan dalam diri manusia yang akan mewujudkan secara
aktual sebagai khalifah Allah.
Ruh dipandang dari segi tasawuf
Jika dilihat dari segi
tasawwufnya, ruh adalah tempat, sumber kehidupan, akhlak terpuji, sangat halus,
bersih dan bebas dari kekuasaan jiwa. Tetap suci, di dalamnya terkandung
sifat-sifat Allah (dalam kapasitas terbatas). Dengan sifat-sifat inilah manusia
dapat melakukan tugasnya sebagai khalifah Allah di bumi.
Referensi
Sit, Masganti. “Psikologi Agama”. Medan: Perdana Publishing. 2011
Suprayetno. “Psikologi Pendidikan”. Bandung: Cita Pustaka Media
Perintis. 2009