Rabu, 15 Mei 2013

STRUKTUR KEPRIBADIAN MANUSIA "RUH"


Pengertian ruh
Dalam bahasa Arab kalimat ruh mempunyai banyak arti. Di samping kata روح (ruh) ada kata  ريح(rih) yang berarti angin dan روح (rawh)  yang berarti rahmat. Ruh dalam bahasa Arab disebut jiwa, nyawa, nafas, wahyu, perintah dan rahmat. Jika dalam bahasa Indonesia kata rohani digunakan untuk menyebut lawan dari dimensi jasmani, maka dalam bahasa Arab kalimat  )رحانيون-روحانىruhaniyun-ruhani) digunakan untuk menyebut semua jenis makhluk halus yang tidak berjasad, seperti malaikat dan jin.
Kata ruh dalam al-quran disebutkan sebanyak 24 kali, masing-masing terdapat dalam 19 surah yang tersebar dalam 21 ayat. Dalam tiga ayat ruh berarti pertolongan atau rahmat Allah, 11 ayat berarti Jibril, satu ayat bermakna wahyu atau al-quran, lima ayat lainnya berhubungan dengan aspek atau dimensi psikis manusia. 
Ruh mempunyai dua arti. Pertama, ruh berkaitan dengan tubuh yang erat hubungannya dengan jantung, beredar bersama peredaran darah. Kalau darah sudah tidak beredar dan jantung berhenti berdetak, maka ruh pun hilang. Dalam hal ini ruh dalam bentuk jasmani yang terikat dengan jasad. Kedua, ruh disamakan defenisinya dengan hati yaitu lathifah rubbaniyah ruhaniyan. Dalam hal ini ruh dapat merasakan penderitaan atau kebahagian. Orang Indonesia menyebutnya dengan jiwa.
Ruh menurut al-Ghazali mengandung dua pengertian. Pertama, tubuh halus (jisim lafif), yaitu nyawa. Berjalan dan bergeraknya nyawa pada batin seperti bergeraknya lampu pada sudut-sudut rumah yang digerakkan oleh penggeraknya. Kedua, yang halus dari manusia, yang mengetahui dan merasa.
Menurut al-Raghib al-Asfahaniy, di antara makna ruh adalah nafs (jiwa manusia). Makna di sini adalah dalam arti dimensi atau aspek; adalah bahwa sebagian aspek atau dimensi jiwa manusia adalah ruh. Sedangkan Ibnu Zakaria menjelaskan bahwa kata ruh dan semua kata memiliki kata aslinya terdiri dari huruf ra, waw, ha, mempunyai arti besar, luas, dan asli. Makna itu mengisyaratkan bahwa ruh merupakan sesuatu yang agung, besar, dan mulia, baik dari nilai maupun kedudukannya dalam diri manusia. Dengan adanya ruh dalam diri menyebabkan manusia tersebut makhluk yang istimewa, unik, dan mulia. Inilah yang disebut dengan khalqan akhar (QS. Al-Mu’minun: 14)
Istilah khalqan akhar mengisyaratkan bahwa manusia berbeda dengan makhluk lainnya, seperti  hewan, karena dalam jiwanya terdapat dimensi ruh. Proses perkembangan fisik dan jiwa manusia dalam ayat tersebut sama dengan binatang. Tapi, semenjak datangnya ruh pada manusia, maka manusia tersebut menjadi lain. Karena ia mempunyai ruh.

Perbedaan ruh dengan nafs
Menurut M. Quraish Shihab, bahwa dengan ditiupkannya ruh, maka manusia menjadi makhluk yang istimewa dan unik, yang berbeda dengan makhluk lainnya. Sedangkan nafs juga dimiliki oleh makhluk lain, seperti orang hutan. Dengan kata lain, nafs bukanlah unsur yang menjadikan manusia menjadi unik dan istimewa. (QS. Al-Hijr: 29)
Dalam QS. Al-Mu’minun: 14 dapat dipahami bahwa sejak terjadinya pembuahan antara sperma dengan sel telur, maka kehidupan telah dimulai. Karena ia telah hidup, maka ia memiliki nafs. Sebab setiap yang hidup memiliki nafs atau nyawa.
Segala sesuatu yang hidup diciptakan berasal dari air. Air adalah sumber kehidupan (QS. Al-Anbiya’: 30/ QS. Al-Furqan: 54). Secara biologis air itu (air mani) berkembang melalui beberapa tahapan, yaitu: nuthfah, ‘alaqah, mudghah, izam, dan khalqan akhar. Adanya pertumbuhan dan perkembangan tersebut secara logika cukup membuktikan bahwa kehidupan sudah ada, walaupun pada tahap permulaan. Kehidupan ini tercipta sebagai konsekuensi logis penciptaan fisik manusia. Jadi, dengan diciptakannya fisik manusia, maka dengan sendirinya akan tercipta kehidupannya. Pada tahap ini nafs belum memiliki dimensi ruh, ‘aql, dan qalb. Pada saat ini nafs memiliki kesamaan dengan nafs yang ada pada binatang. Setelah nafs manusia menerima ruh, barulah ia menjadi makhluk yang berbeda dengan binatang.
Namun, dalam perspektif nafs, ruh menjadi faktor penting bagi aktifitas nafs manusia ketika hidup di muka bumi ini, sebab tanpa ruh manusia totalitas tidak dapat lagi berfikir dan merasa.

Datangnya ruh
Nafs telah ada sejak nuthfah dalam konsepsi, sedangkan ruh baru diciptakan setelah nuthfah mencapai kondisi istiwa’. Ruh sebagai kekuatan yang berasal dari Allah yang ditiupkan ke jasad manusia saat berusia 120 hari. Ruh yang dimensinya jauh lebih tinggi dari akal ini sudah ada sebelum manusia dilahirkan dan terus ada setelah manusia meninggal (setelah meninggal maka ruh dipindahkan ke alam baqa, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Allah).
Setelah mengalami perkembangan yang sempurna dan lahir ke dunia, maka nafs yang telah memiliki ruh itu memiliki kesiapan untuk menerima daya sam’u, absar, dan af’idah, yang merupakan sarana-sarana bagi ‘aql dan qalb untuk memperoleh pengertian dan pemahaman.

Hakikat ruh
Struktur ruh memberikan ciri khas dan keunikan tersendiri bagi psikologi Islam. Ruh merupakan substansi psikologis manusia yang menjadi esensi keberadaannya. Ruh membutuhkan jasad untuk aktualisasi diri. Walaupun kita meyakini pada diri kita ada ruh (tak kasatmata/ invisible) seperti halnya kita meyakini raga, akal dan lain-lain. Tapi, sampai saat ini belum ada yang memahami hakikat ruh secara pasti, karena ruh merupakan misteri ilahi bagi sains umumnya dan psikologi khususnya. Dalam al-Quran dalam surah al-Isra’: 85
štRqè=t«ó¡our Ç`tã Çyr9$# ( È@è% ßyr9$# ô`ÏB ̍øBr& În1u !$tBur OçFÏ?ré& z`ÏiB ÉOù=Ïèø9$# žwÎ) WxŠÎ=s% ÇÑÎÈ  
Artinya: dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
Ini menjelaskan bahwa ruh merupakan urusan atau hanya dipahami oleh Allah. Manusia sama sekali tidak memahaminya kecuali sedikit.

Karakteristik ruh:
·         Ruh berasal dari Allah, dan bukan berasal dari tanah/ bumi.
·         Ruh adalah unik, tak sama dengan akal budi, jasmani, dan jiwa manusia. Ruh berasal dari Allah itu merupakan sarana pokok untuk munajat kehadirat-Nya.
·         Ruh tetap hidup sekalipun seseorang tidur/ tidak sadar.
·         Ruh dapat menjadi kotor dengan dosa dan noda, dan bersih bila bertaubat/beramal sholeh.
·         Ruh karena sangat lembut dan halusnya mengambil “wujud” serupa dengan “wadah” nya, paralel dengan zat cair, gas, dan cahaya yang “bentuk” nya serupa dengan tempat ia berada.
·         Tasawuf mengikut sertakan seseorang beribadah kepada Allah.
·         Tasawuf melatih untuk menyebut kalimat Allah tidak saja sampai pada taraf kesadaran lahiriah, tapi juga tembus ke dalam alam rohaniah. Kalimat Allah yang termuat dalam ruh itu pada gilirannya dapat membawa ruh itu sendiri ke alam ketuhanan.
Ruh ketika berada dalam tubuh, tidak sama dengan keberadaan air dalam gelas. Bila gelas tersebut pecah, maka air yang di dalamnya akan tumpah.
Ruh bukanlah hal yang demikian. Apabila seseorang manusia meninggal dunia atau apabila tubuh manusia itu hancur, maka ruhnya tetap utuh, tidak kurang suatu apapun. Ruh merupakan rahasia Allah SWT. Ruh tidak dapat diketahui atau dipelajari oleh siapa pun, sekalipun oleh para nabi dan rasul.

Ruh sebagai dimensi spiritual psikis manusia
Aspek jasmaniyah bersifat nyata (berbentuk, berkembang dan lain-lain), sedangkan aspek ruhaniyah bersifat spritual (karena ia merupakan potensi luhur batin manusia). Fungsi ini muncul dari dimensi ruh atau spiritual (sisi jiwa yang memiliki sifat-sifat ilahiyah dan memiliki daya untuk menarik dan mendorong dimensi-dimensi lainnya untuk mewujudkan sifat-sifat Allah dalam dirinya). Ini berarti ruh adalah aspek psikis (jiwa) yang bersifat spiritual dan transendental. Bersifat transendental karena mengatur hubungan manusia yang maha tinggi.
Dimensi psikis manusia yang langsung dari Allah adalah dimensi ruh. Dimensi ruh ini membawa sifat-sifat dan daya-daya yang dimiliki oleh sumbernya, yaitu Allah. Khalifah Allah dapat berarti mewujudkan sifat-sifat Allah secara nyata dalam kehidupannya di bumi untuk mengelola dan memanfaatkan bumi Allah. Tegasnya bahwa dimensi ruh merupakan daya potensialitas internal dan dalam diri manusia yang akan mewujudkan secara aktual sebagai khalifah Allah.

Ruh dipandang dari segi tasawuf
            Jika dilihat dari segi tasawwufnya, ruh adalah tempat, sumber kehidupan, akhlak terpuji, sangat halus, bersih dan bebas dari kekuasaan jiwa. Tetap suci, di dalamnya terkandung sifat-sifat Allah (dalam kapasitas terbatas). Dengan sifat-sifat inilah manusia dapat melakukan tugasnya sebagai khalifah Allah di bumi.

Referensi
Sit, Masganti. “Psikologi Agama”. Medan: Perdana Publishing. 2011
Suprayetno. “Psikologi Pendidikan”. Bandung: Cita Pustaka Media Perintis. 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar