“Wih,
dia tu badannya lurus kali. Kayak pohon itu” ledek seorang lelaki sambil
menunjuk sebatang Pohon Pinang dihadapanku kemarin. Menjaga pandangan sebegitu
sulitkah? Setiap melihat apa yang lewat, hati dan mulut pun ikut berbicara.
Menjaga pandangan atau yang sering kita
dengar dalam bahasa Arabnya disebut Ghadul
Bashar. Tentu
saja sulit, bagaimana tidak, kita yang mempunyai mata
ini, pastilah senang melihat benda-benda yang indah dipandang mata. Kita begitu
terpesona memandangi apa saja yang diciptakan sang khaliq. Terlebih apabila dengan memandangnya mata tak ingin berpaling sedikit pun darinya.
Mata adalah amanah yang harus kita jaga dan
pelihara. Kita harus
cerdas menggunakannya agar tidak melenceng dari apa yang telah digariskan oleh
sang khaliq. Betapa
Allah telah menegaskan kita
untuk menjaga amanah mata ini. Firman Allah “Katakanlah kepada laki-laki
yang beriman: ”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara
kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. An-Nur:30)
Mengapa harus menahan
pandangan?
Pandangan adalah sumber
kemaksiatan. Mata dapat melihat semua hal yang dapat dilihat. Dari yang boleh
maupun tidak boleh dilihat.
Rasulullah bersabda dengan membawakan firman Allah dalam hadits Qudsi: “Pandangan
mata adalah panah beracun dari antara panah-panah Iblis. Barangsiapa
meninggalkannya karena takut kepada-Ku maka Aku ganti dengan keimanan yang
dirasakan manis dalam hatinya.” (HR. Al Hakim)
Nasehat Ibnu Qoyyim,
beliau mengatakan : Pada umumnya memandang merupakan sumber utama terjadinya
peristiwa yang menimpa manusia, karena pandangan itu melahirkan bisikan, kemudian
bisikan melahirkan pemikiran. Dari pemikiran lahirlah syahwat dan dari syahwat
lahirlah kehendak. Setelah itu, kehendak kehendak menjadi kuat, sehingga
menjadi keinginan yang kuat. Dengan
demikian keinginan yang kuat tadi pasti melahirkan perbuatan, selama tidak ada
yang menghalanginya.”
Maka benarlah jika pandangan dikatakan sebagai
anak panah Iblis yang beracun dan menjadi komandan bagi syahwat. Tak masalah
jika yang kita pandangi adalah hal-hal yang tidak dilarang, tapi bagiamana
jadinya jika yang kita pandang adalah hal-hal yang diharamkan dan akhirnya akan melahirkan bisikan-bisikan jahat di hati kita?
Manfaat Menjaga Pandangan Mata:
1.
Surga Allah
Orang yang menjaga pandangannya adalah salah satu orang
yang dijamin masuk syurga.
Abu Umamah berkata,”Saya
mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berilah jaminan padaku enam perkara, maka aku jamin bagi kalian
surga. Jika salah seorang kalian berkata maka janganlah berdusta, dan jika
diberi amanah janganlah berkhianat, dan jika dia berjanji janganlah
menyelisihinya, dan tundukkanlah pandangan kalian, cegahlah tangan-tangan
kalian (dari menyakiti orang lain), dan jagalah kemaluan kalian.”
(HR.Ath-Thabrani dan Ibnu ‘Adi dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
2.
Mendekatkan hati kepada Allah
Melepaskan pandangan tanpa kontrol dapat
merusak dan menjauhkan hati dari Allah, serta dapat memutuskan hubungan antara
hamba dan Tuhan. Para pemerhati masalah jiwa mengemukakan bahwa antara mata dan
hati ada satu celah dan jalan. Manakala mata rusak, maka hati pun rusak, dan
menjadi tempat kotoran. Hati itu tak bisa lagi menjadi fasilitas untuk
mengenal, mencintai, dan menuju Allah.
3.
Memberikan pakaian penuh cahaya kepada hati
Melepaskan pandangan secara bebas berarti
membusanai hati dengan pakaian kegelapan. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala
menyebutkan ayat an-Nur (cahaya) segera setelah memberikan perintah menjaga
pandangan.
4.
Melahirkan firasat yang benar
Dengan menjaga pandangan seseorang
bisa membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang jujur dan yang
dusta. Syuja’ al-Karmaniy
mengatakan, ”Siapa yang mengisi lahiriyahnya
dengan mengikuti
sunnah dan mengisi batinnya dengan senantiasa mawas diri, menjaga pandangan
dari yang terlarang, menahan diri dari syubhat, dan makan yang halal, pasti
firasatnya tidak pernah salah.” Syuja’ sendiri adalah orang yang firasatnya
senantiasa benar.
Menahan pandangan juga akan menutup jalan masuk bagi
syaitan ke dalam hati manusia, karena sesungguhnya syaitan masuk melalui
pandangan dan menembus hati melalui pandangan lebih cepat dari udara dan tempat
yang kosong.
5.
Membuat hati berkonsentrasi dalam memikirkan hal-hal yang baik
Mengumbar pandangan, akan membuat seseorang
lupa akan hal itu, karena ada pembatas antara dia dan hatinya. Jiwanya pecah
dan ia jatuh ke dalam perangkap hawa nafsunya dan lalai mengingat Tuhan.
Hal yang dapat dilakukan
untuk mengurangi pandangan liar penyebab kemaksiatan:
Salah satu ajaran mulia dalam islam adalah menundukkan
pandangan. Allah memerintahkan menundukkan pandangan kepada orang-orang yang
beriman dari hamba-hambanya, dan ini menunjukkan mulianya apa yang
diperintahkan oleh Allah.
Seperti yang
difirmankan Allah dalam surah An Nuur ayat 30. Dalam ayat ini Allah mendahulukan penyebutan menundukkan
pandangan dari pada menjaga kemaluan. Kenapa? Hal ini menunjukkan pentingnya
menundukkan pandangan sebagai sarana untuk membersihkan hati dari
penyakit-penyakit yang dapat merasuk ke dalamnya. Setelah itu barulah hati
dapat tumbuh dan berkembang dengan diberi makanan hati yang berupa amal
keta’atan, sebagaimana badan yang juga butuh makanan agar dapat tumbuh dan
berkembang.
Dari Abu Sa’id
Al-Khudri Ra, Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kamu sekalian duduk-duduk di
pinggir jalan” para
sahabat berkata: “Ya Rasulullah, kami tidak dapat meninggalkan
majelis untuk ngobrol disana?” Rasulullah SAW bersabda : “Apabila
kamu semua merasa keberatan untuk meninggalkan majelis itu, maka kamu sekalian
harus memberikan hak jalan” Mereka
bertanya, “Apa hak jalan itu ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab. “Ialah
memejamkan mata (tidak bermata keranjang), menahan gangguan (tidak mengganggu
orang, terutama anak perempuan) menjawab salam, menganjurkan kepada kebaikan
dan mencegah dari kemungkaran. (HR.
Bukhari dan Muslim)
Namun, ada kalanya kita memandang yang dilarang oleh
Allah secara tidak sengaja. Hal ini
tentunya tidak menjadi masalah, karena tidak ada unsur sengaja di dalamnya dan
asalkan tidak berlanjut pada pandangan selanjutnya. Oleh karena itu, alangkah
baiknya jika kita mencegahnya dengan menundukkan pandangan. Sebagaimana sabda
Rasulullah SAW dalam haditsnya:
Dari Buraidah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali radliyallahu ‘anhu,
“Wahai Ali janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan yang pertama dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua)” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
“Wahai Ali janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan yang pertama dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua)” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
Ghadul bashar memang merupakan perintah yang gampang-gampang
susah untuk diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Gampang sebenarnya jika kita benar-benar mau menerapkannya dan susah jadinya jika
tidak ada keinginan kuat untuk mencobanya. Semoga kedepannya kita dapat menjaga pandangan sehingga
kita terhindar dari anak panah setan pembawa kemaksiatan dan penghantar menuju
jalan neraka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar