By: Ana Pane
Setiap orang memiliki suatu komitmen dan itu akan menjadi
sebuah prinsip dalam menjalani kehidupannya. Memasuki LPM Dinamika bukanlah sebuah
pilihan yang serius bagi Ana sejak awal. Namun, apapun pilihan yang sudah
dipilih maka harus berlanjut hingga akhirnya. “Sekali melangkah pantang mundur”
itulah prinsip hidup Ana. Sedikit konyol memang. Jika suatu hal itu sudah
diyakini pas lagi benar, maka istiqomah adalah jalan untuk mencapainya.
Sejak awal dalam perekrutan 2 anggota LPM Dinamika, Ana
sudah merasa dipaksa untuk membuka mata. Apa alasan memilih LPM Dinamika,
sedangkan masih banyak organisasi yang lain? Salah seorang kru LPM Dinamika
menunjuk Ana dan ia berkata “ini cocoknya dimana ?” spontan calon anggota LPM
Dinamika 2 menjawab “LDK”. Di sini hati Ana mulai goyang, namun itu semua dapat
ditepiskan.
Banyak kesan yang tidak terlupakan di LPM Dinamika, kesan
baik maupun buruk. Dari mulai perekrutan, magang, hingga di posisi yang
sekarang. Memang Ana belum terlalu lama bergabung di LPM Dinamika, namun
lumayan banyak kesan yang telah dirasakan. J
LPM Dinamika jika disetarakan dengan manusia, maka LPM
Dinamika adalah orang yang pertama kali membuat hati Ana menjadi berdebar-debar
ketika berjumpa. Bagaimana tidak? LPM Dinamika adalah komunitas baru bagi Ana
dengan orang serta suasana yang beda dari biasanya. Di sini Ana diuji untuk
berusaha serta beradaptasi dengan orang dan suasananya yang berbeda tersebut.
Perlu pendekatan yang tinggi untuk masuk ke dalamnya.
Menjadi kru LPM Dinamika adalah suatu hal yang sangat
diinginkan. Saat pengukuhan 2 dilaksanakan dengan segala bentuk tes dan
pengujian di dalamnya, ada dua hal yang paling berkesan bahkan hingga membawa
hati di dalamnya. Pertama adalah saat pengujian yang dilakukan pada malam hari
sekitar jam 02.00, ada salah seorang kru LPM Dinamika menanyakan tentang
jurnalistik kepada kami. “apa sih jurnalistik itu?” kami yang ketika itu ada
berlima orang hanya terdiam. Ana tahu jawaban dari pertanyaan itu, tapi untuk membahasakan
kata-kata dalam jawaban itu Ana tidak bisa. Spontan saja Ana jawab dengan
bahasa yang tidak baku dan tidak baik. Namun, Ana sungguh tercengang dengan
perkataan anggota kru LPM Dinamika yang menguji kami saat itu setelah mendengar
jawaban Ana, “kamu tahu, bahasa kamu itu masih di level yang rendah”. Wow, itu
adalah perkataan yang sangat menyentuh hati ana banget. Namun, setelah itu Ana
berusaha meyadarkan diri bahwa apa yang dikatakan salah seorang dari anggota
kru LPM Dinamika tersebut memang benar.
Kedua adalah saat pengumuman kelulusan anggota magang. Suatu
hal yang mengguncangkan hati adalah ana dinyatakan tidak lulus menjadi kru LPM
Dinamika. “Aduh......dimana mau dibuat muka ni....?” itulah yang
terbersit di hati Ana saat itu. Dan untuk ke dua kalinya LPM Dinamika adalah
hal pertama dalam hidup Ana yang dapat membuat Ana menangis sejadi-jadinya.
Saat telah dinyatakan lulus (walaupun bersyarat L) menjadi kru muda di LPM Dinamika Ana diposisikan di
salah satu sub divisi di redaksi yaitu editor. Kesan awal di sub divisi ini
adalah mengedit salah satu rubrik majalah dari +5000 karakter menjadi 3500
karakter dengan spasi. Pening + susah karena ini awal Ana mengedit sebuah
tulisan dan dalam waktu yang singkat, karena sudah mendekati magrib dan Ana
belum sholat. Namun, kesulitan ini menjadi suatu hal yang menyenangkan. Bagaimana
tidak? Ini adalah hal yang pertama kalinya namun Ana bisa melakukannya. J
Itulah beberapa kesan yang Ana rasakan dari mulai
mendekati hingga bergabung menjadi kru muda LPM Dinamika. Lebih terkesan curhat
sih memang, tapi memang itulah kesan yang Ana rasakan di Dinamika.
Semoga LPM Dinamika menjadi lebih jaya ke depannya. Amin...... J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar