Maaf adalah kata yang dapat meluluhkan, meringankan
bahkan menghapuskan kekesalan dalam diri. Namun, tak dapat disangkal bahwa maaf
adalah kata yang sulit untuk diucapkan. Semua dari kita pasti pernah melakukan
kesalahan, namun apakah kita ringan untuk meminta maaf? Mungkin ada yang
menjawab ia, mungkin juga menjawab tidak. Kebanyakan dari kita memang enggan
untuk meminta maaf.
Namaku Ana Pane, sering dipanggil
Pane dan aku suka dengan nama panggilan itu. Aku kuliah di Institut Agama Islam
Negeri di Sumatera Utara atau yang sering disingkat dengan kata IAIN SU. Aku
mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dan kini aku berada di semester
IV. Di kelas kami terdiri dari 29 orang yang terdiri berbagai suku, bahasa,
cara berfikir dan berasal dari berbagai kota/ desa.
Sebut saja namanya Fahri. Dia adalah teman lelaki
sekelasku. Orangnya ramah, mudah tersenyum, simpel, apa adanya dan pintar. Aku percaya
padanya dan aku selalu bertanya sesuatu yang tidak kuketahui padanya walaupun
masih banyak temen perempuan yang bisa dijadikan tempat bertanya. Cara bicara
dan sikapnya yang lembut membuatku dan temanku nyaman berada didekatnya. Hampir
semua teman mengatakan seperti itu. Bicaranya sopan dan mengalir selalu
memahamkanku ketika dia persentasi makalah. Aku sering berfikir “Andai semua
aku dan temanku seperti dia” pasti akan pintar dan cerdas anak bangsa ini. J
Saat menduduki bangku kuliah PAI-2 semester III, ada
suatu kejadian yang dianggap biasa, namun menyebabkan respon yang luar biasa.
Persentasi makalah Civic Education berjalan seperti biasanya, dan
berlanjut kesesi tanggapan. Aku lupa persis pertanyaan yang diajukan oleh si penanya,
namun dia menanggapi dengan perumpamaan negara Korea. “Pane dengan Koreanya,”
ucapnya tersebut mengejutkanku. Spontan
aku membelokkan badan menghadap wajahnya. Aku terkejut. Apa gerangan
menjadikanku contoh dan apa hubungannya dengan Korea? Aku terus berfikir
mengapa ia memperumpamakanku dengan korea. Aku memang lumayan penggemar drama,
lagu maupun film Korea. Itupun akibat pengaruh teman-temanku di kelas yang
fanatik terhadap Korea. Namun, bukan hanya aku saja yang fanatik dengan Korea,
masih ada temanku yang lain yang lebih fanatik atau ngefansnya terhadap Korea.
Kubiarkan ia terus bicara hingga selesai tanggapannya,
sedangkan mukaku terlihat bingung mencari jawaban sangkut pautnya aku dengan
Korea. “Ente-kan sering mutar lagu Korea kuat-kuat” tanggap temanku Mifdah
mengenai hal memperumpakanku dengan Korea. Setelah mendengar penjelasan dari
sobat karib ku itu aku pun memaklumi dan menganggapnya biasa dan hanya perumpamaan
serta permainan belaka.
Selesai mata kuliah semuanya berjalan dengan biasa.
Namun, Fahri belum menyapaku sama sekali, entah apa gerangan. Setan pun
mengusik hatiku yang hakikatnya sering berbolak-balik. “Berarti dia serius
mengatakannya.” Pikiran jahatku pun terus bermain “Oke, fine! Kita
mulai!,” fikirku berburuk sangka. Hingga beberapa hari dan beberapa minggu
bahkan bulan, suasana menjadi memburuk. Tak ada lagi tatapan wajah, sapaan,
candaan, bahkan kabar sedikitpun. Semuanya di antara aku dan dia menjadi
tegang.
Namun, saat liburan kenaikan semester IV dia meneleponku
dan dia menanyakan perihal masalah Korea itu kepadaku.
“Ana minta maaf ya Pane....!,” ucapnya diseberang telephone
sana.
“Ia, gak papa, aku juga udah lupa kok,” jawabku bohong.
Gimana mau lupa, tiap hari aja ketemu di kelas? J
“Benerlah Pane? Ana minta maaf kali lho,”
“Ia,” jawabku singkat. “Andaikan dulu ente
menganggapnya suatu hal yang biasa, mungkin aku akan biasa aja. Tapi, ente
habis itu gak pernah lagi negur aku, yaa... aku beranggapan kalau ente
tu serius nyindirnya ke ana,” curhatku panjang lebar.
“Ia, sebenarnya ana gak ada maksud seperti
itunya.......,” ucapnya hingga akhir.
Fahri telah meminta maaf padaku. Aku pun akan melihat
reaksi apa yang akan berubah diantara kami. Apakah aku atau dia yang akan
memulai duluan. Ujung-ujungnya adalah gengsi.
Awal perkuliahan semester IV pun dimulai. Namun, cerita
uring-uringan kami masih jalan di tempat di situ saja. Masih belum ada yang
berubah. Aku entah dia yang belum terbuka penyebab uring-uringan permasalahan
ini. Namun, setelah hampir dua bulan di semester IV ini mulai ada perubahan
setelah aku dan dia membukakan diri untuk memulai percakapan lagi. Dan sekarang
ini masih dalam proses penyembuhan penyambungan tali silaturrahmi Islam
ini.
Ada beberapa hal yang dapat diambil dari sepotong kisah
di atas.
Semoga bermanfaat J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar