Selasa, 07 Mei 2013

DI BALIK CANDAAN TAK BERMAKSUD



Maaf adalah kata yang dapat meluluhkan, meringankan bahkan menghapuskan kekesalan dalam diri. Namun, tak dapat disangkal bahwa maaf adalah kata yang sulit untuk diucapkan. Semua dari kita pasti pernah melakukan kesalahan, namun apakah kita ringan untuk meminta maaf? Mungkin ada yang menjawab ia, mungkin juga menjawab tidak. Kebanyakan dari kita memang enggan untuk meminta maaf.
            Namaku Ana Pane, sering dipanggil Pane dan aku suka dengan nama panggilan itu. Aku kuliah di Institut Agama Islam Negeri di Sumatera Utara atau yang sering disingkat dengan kata IAIN SU. Aku mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dan kini aku berada di semester IV. Di kelas kami terdiri dari 29 orang yang terdiri berbagai suku, bahasa, cara berfikir dan berasal dari berbagai kota/ desa.
Sebut saja namanya Fahri. Dia adalah teman lelaki sekelasku. Orangnya ramah, mudah tersenyum, simpel, apa adanya dan pintar. Aku percaya padanya dan aku selalu bertanya sesuatu yang tidak kuketahui padanya walaupun masih banyak temen perempuan yang bisa dijadikan tempat bertanya. Cara bicara dan sikapnya yang lembut membuatku dan temanku nyaman berada didekatnya. Hampir semua teman mengatakan seperti itu. Bicaranya sopan dan mengalir selalu memahamkanku ketika dia persentasi makalah. Aku sering berfikir “Andai semua aku dan temanku seperti dia” pasti akan pintar dan cerdas anak bangsa ini. J
Saat menduduki bangku kuliah PAI-2 semester III, ada suatu kejadian yang dianggap biasa, namun menyebabkan respon yang luar biasa. Persentasi makalah Civic Education berjalan seperti biasanya, dan berlanjut kesesi tanggapan. Aku lupa persis pertanyaan yang diajukan oleh si penanya, namun dia menanggapi dengan perumpamaan negara Korea. “Pane dengan Koreanya,” ucapnya tersebut  mengejutkanku. Spontan aku membelokkan badan menghadap wajahnya. Aku terkejut. Apa gerangan menjadikanku contoh dan apa hubungannya dengan Korea? Aku terus berfikir mengapa ia memperumpamakanku dengan korea. Aku memang lumayan penggemar drama, lagu maupun film Korea. Itupun akibat pengaruh teman-temanku di kelas yang fanatik terhadap Korea. Namun, bukan hanya aku saja yang fanatik dengan Korea, masih ada temanku yang lain yang lebih fanatik atau ngefansnya terhadap Korea.
Kubiarkan ia terus bicara hingga selesai tanggapannya, sedangkan mukaku terlihat bingung mencari jawaban sangkut pautnya aku dengan Korea. “Ente-kan sering mutar lagu Korea kuat-kuat” tanggap temanku Mifdah mengenai hal memperumpakanku dengan Korea. Setelah mendengar penjelasan dari sobat karib ku itu aku pun memaklumi dan menganggapnya biasa dan hanya perumpamaan serta permainan belaka.
Selesai mata kuliah semuanya berjalan dengan biasa. Namun, Fahri belum menyapaku sama sekali, entah apa gerangan. Setan pun mengusik hatiku yang hakikatnya sering berbolak-balik. “Berarti dia serius mengatakannya.” Pikiran jahatku pun terus bermain “Oke, fine! Kita mulai!,” fikirku berburuk sangka. Hingga beberapa hari dan beberapa minggu bahkan bulan, suasana menjadi memburuk. Tak ada lagi tatapan wajah, sapaan, candaan, bahkan kabar sedikitpun. Semuanya di antara aku dan dia menjadi tegang.
Namun, saat liburan kenaikan semester IV dia meneleponku dan dia menanyakan perihal masalah Korea itu kepadaku.
Ana minta maaf ya Pane....!,” ucapnya diseberang telephone sana.
“Ia, gak papa, aku juga udah lupa kok,” jawabku bohong. Gimana mau lupa, tiap hari aja ketemu di kelas? J
“Benerlah Pane? Ana minta maaf kali lho,”
“Ia,” jawabku singkat. “Andaikan dulu ente menganggapnya suatu hal yang biasa, mungkin aku akan biasa aja. Tapi, ente habis itu gak pernah lagi negur aku, yaa... aku beranggapan kalau ente tu serius nyindirnya ke ana,” curhatku panjang lebar.
“Ia, sebenarnya ana gak ada maksud seperti itunya.......,” ucapnya hingga akhir.
Fahri telah meminta maaf padaku. Aku pun akan melihat reaksi apa yang akan berubah diantara kami. Apakah aku atau dia yang akan memulai duluan. Ujung-ujungnya adalah gengsi.
Awal perkuliahan semester IV pun dimulai. Namun, cerita uring-uringan kami masih jalan di tempat di situ saja. Masih belum ada yang berubah. Aku entah dia yang belum terbuka penyebab uring-uringan permasalahan ini. Namun, setelah hampir dua bulan di semester IV ini mulai ada perubahan setelah aku dan dia membukakan diri untuk memulai percakapan lagi. Dan sekarang ini masih dalam proses penyembuhan penyambungan tali silaturrahmi Islam ini. 
Ada beberapa hal yang dapat diambil dari sepotong kisah di atas.
*      Meminta maaf itu terkadang susah, tapi minta maaflah! Karena meminta maaf itu adalah perbuatan yang baik. Jangan biarkan tali silaturrahmi itu putus dikarenakan hal-hal yang sepele.
*      Memaafkan pun terkadang susah, tapi maafkanlah! Karena memaafkan itu adalah perbuatan yang mulia dan sangat dianjurkan. Jangan biarkan hati dipenuhi oleh racun-racun egois pemusnah kelembutan hati.
*      Mengetahui kesalahan teman, menjadikan kita lebih memahami perilakunya sehingga kita dapat memberi perlakuan sebaik-baiknya dan secocok-cocoknya.
*      Menyadari bahwa semua orang itu tidak ada yang sempurna. Manusia itu adalah tempat salah dan khilaf.
*      Khilaf tak harus keseringan. Yuk, bareng-bareng merubah diri...!!!!
Semoga bermanfaat J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar