Sabtu, 18 Mei 2013

RAPUH


Dibalik keceriaan ku kurasa ada sebuah rahasia
aku ingin membongkarnya
aku ingin mengetahuinya

aku adalah aku
yang selalu sendiri dalam mengharungi sepak terjang serta kejamnya dunia
aku lelah
aku lemas
aku bingung kemana arah jalan tujuan

full hari kuleawati tanpa perasaan sedikit pun

entah lah bagaimana catatan hidupku selama di bulan ini
bulan november yang sudah kucoret dengan perasaan galau enggan serta malas
aku sadar dan tak sadar
kenapa ?
aku juga tak tau
tanyakanlah pada ranting yang jatuh
karena segitu lah rapuh nya aku pada saat ini

Rabu, 15 Mei 2013

STRUKTUR KEPRIBADIAN MANUSIA "RUH"


Pengertian ruh
Dalam bahasa Arab kalimat ruh mempunyai banyak arti. Di samping kata روح (ruh) ada kata  ريح(rih) yang berarti angin dan روح (rawh)  yang berarti rahmat. Ruh dalam bahasa Arab disebut jiwa, nyawa, nafas, wahyu, perintah dan rahmat. Jika dalam bahasa Indonesia kata rohani digunakan untuk menyebut lawan dari dimensi jasmani, maka dalam bahasa Arab kalimat  )رحانيون-روحانىruhaniyun-ruhani) digunakan untuk menyebut semua jenis makhluk halus yang tidak berjasad, seperti malaikat dan jin.
Kata ruh dalam al-quran disebutkan sebanyak 24 kali, masing-masing terdapat dalam 19 surah yang tersebar dalam 21 ayat. Dalam tiga ayat ruh berarti pertolongan atau rahmat Allah, 11 ayat berarti Jibril, satu ayat bermakna wahyu atau al-quran, lima ayat lainnya berhubungan dengan aspek atau dimensi psikis manusia. 
Ruh mempunyai dua arti. Pertama, ruh berkaitan dengan tubuh yang erat hubungannya dengan jantung, beredar bersama peredaran darah. Kalau darah sudah tidak beredar dan jantung berhenti berdetak, maka ruh pun hilang. Dalam hal ini ruh dalam bentuk jasmani yang terikat dengan jasad. Kedua, ruh disamakan defenisinya dengan hati yaitu lathifah rubbaniyah ruhaniyan. Dalam hal ini ruh dapat merasakan penderitaan atau kebahagian. Orang Indonesia menyebutnya dengan jiwa.
Ruh menurut al-Ghazali mengandung dua pengertian. Pertama, tubuh halus (jisim lafif), yaitu nyawa. Berjalan dan bergeraknya nyawa pada batin seperti bergeraknya lampu pada sudut-sudut rumah yang digerakkan oleh penggeraknya. Kedua, yang halus dari manusia, yang mengetahui dan merasa.
Menurut al-Raghib al-Asfahaniy, di antara makna ruh adalah nafs (jiwa manusia). Makna di sini adalah dalam arti dimensi atau aspek; adalah bahwa sebagian aspek atau dimensi jiwa manusia adalah ruh. Sedangkan Ibnu Zakaria menjelaskan bahwa kata ruh dan semua kata memiliki kata aslinya terdiri dari huruf ra, waw, ha, mempunyai arti besar, luas, dan asli. Makna itu mengisyaratkan bahwa ruh merupakan sesuatu yang agung, besar, dan mulia, baik dari nilai maupun kedudukannya dalam diri manusia. Dengan adanya ruh dalam diri menyebabkan manusia tersebut makhluk yang istimewa, unik, dan mulia. Inilah yang disebut dengan khalqan akhar (QS. Al-Mu’minun: 14)
Istilah khalqan akhar mengisyaratkan bahwa manusia berbeda dengan makhluk lainnya, seperti  hewan, karena dalam jiwanya terdapat dimensi ruh. Proses perkembangan fisik dan jiwa manusia dalam ayat tersebut sama dengan binatang. Tapi, semenjak datangnya ruh pada manusia, maka manusia tersebut menjadi lain. Karena ia mempunyai ruh.

Perbedaan ruh dengan nafs
Menurut M. Quraish Shihab, bahwa dengan ditiupkannya ruh, maka manusia menjadi makhluk yang istimewa dan unik, yang berbeda dengan makhluk lainnya. Sedangkan nafs juga dimiliki oleh makhluk lain, seperti orang hutan. Dengan kata lain, nafs bukanlah unsur yang menjadikan manusia menjadi unik dan istimewa. (QS. Al-Hijr: 29)
Dalam QS. Al-Mu’minun: 14 dapat dipahami bahwa sejak terjadinya pembuahan antara sperma dengan sel telur, maka kehidupan telah dimulai. Karena ia telah hidup, maka ia memiliki nafs. Sebab setiap yang hidup memiliki nafs atau nyawa.
Segala sesuatu yang hidup diciptakan berasal dari air. Air adalah sumber kehidupan (QS. Al-Anbiya’: 30/ QS. Al-Furqan: 54). Secara biologis air itu (air mani) berkembang melalui beberapa tahapan, yaitu: nuthfah, ‘alaqah, mudghah, izam, dan khalqan akhar. Adanya pertumbuhan dan perkembangan tersebut secara logika cukup membuktikan bahwa kehidupan sudah ada, walaupun pada tahap permulaan. Kehidupan ini tercipta sebagai konsekuensi logis penciptaan fisik manusia. Jadi, dengan diciptakannya fisik manusia, maka dengan sendirinya akan tercipta kehidupannya. Pada tahap ini nafs belum memiliki dimensi ruh, ‘aql, dan qalb. Pada saat ini nafs memiliki kesamaan dengan nafs yang ada pada binatang. Setelah nafs manusia menerima ruh, barulah ia menjadi makhluk yang berbeda dengan binatang.
Namun, dalam perspektif nafs, ruh menjadi faktor penting bagi aktifitas nafs manusia ketika hidup di muka bumi ini, sebab tanpa ruh manusia totalitas tidak dapat lagi berfikir dan merasa.

Datangnya ruh
Nafs telah ada sejak nuthfah dalam konsepsi, sedangkan ruh baru diciptakan setelah nuthfah mencapai kondisi istiwa’. Ruh sebagai kekuatan yang berasal dari Allah yang ditiupkan ke jasad manusia saat berusia 120 hari. Ruh yang dimensinya jauh lebih tinggi dari akal ini sudah ada sebelum manusia dilahirkan dan terus ada setelah manusia meninggal (setelah meninggal maka ruh dipindahkan ke alam baqa, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Allah).
Setelah mengalami perkembangan yang sempurna dan lahir ke dunia, maka nafs yang telah memiliki ruh itu memiliki kesiapan untuk menerima daya sam’u, absar, dan af’idah, yang merupakan sarana-sarana bagi ‘aql dan qalb untuk memperoleh pengertian dan pemahaman.

Hakikat ruh
Struktur ruh memberikan ciri khas dan keunikan tersendiri bagi psikologi Islam. Ruh merupakan substansi psikologis manusia yang menjadi esensi keberadaannya. Ruh membutuhkan jasad untuk aktualisasi diri. Walaupun kita meyakini pada diri kita ada ruh (tak kasatmata/ invisible) seperti halnya kita meyakini raga, akal dan lain-lain. Tapi, sampai saat ini belum ada yang memahami hakikat ruh secara pasti, karena ruh merupakan misteri ilahi bagi sains umumnya dan psikologi khususnya. Dalam al-Quran dalam surah al-Isra’: 85
štRqè=t«ó¡our Ç`tã Çyr9$# ( È@è% ßyr9$# ô`ÏB ̍øBr& În1u !$tBur OçFÏ?ré& z`ÏiB ÉOù=Ïèø9$# žwÎ) WxŠÎ=s% ÇÑÎÈ  
Artinya: dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
Ini menjelaskan bahwa ruh merupakan urusan atau hanya dipahami oleh Allah. Manusia sama sekali tidak memahaminya kecuali sedikit.

Karakteristik ruh:
·         Ruh berasal dari Allah, dan bukan berasal dari tanah/ bumi.
·         Ruh adalah unik, tak sama dengan akal budi, jasmani, dan jiwa manusia. Ruh berasal dari Allah itu merupakan sarana pokok untuk munajat kehadirat-Nya.
·         Ruh tetap hidup sekalipun seseorang tidur/ tidak sadar.
·         Ruh dapat menjadi kotor dengan dosa dan noda, dan bersih bila bertaubat/beramal sholeh.
·         Ruh karena sangat lembut dan halusnya mengambil “wujud” serupa dengan “wadah” nya, paralel dengan zat cair, gas, dan cahaya yang “bentuk” nya serupa dengan tempat ia berada.
·         Tasawuf mengikut sertakan seseorang beribadah kepada Allah.
·         Tasawuf melatih untuk menyebut kalimat Allah tidak saja sampai pada taraf kesadaran lahiriah, tapi juga tembus ke dalam alam rohaniah. Kalimat Allah yang termuat dalam ruh itu pada gilirannya dapat membawa ruh itu sendiri ke alam ketuhanan.
Ruh ketika berada dalam tubuh, tidak sama dengan keberadaan air dalam gelas. Bila gelas tersebut pecah, maka air yang di dalamnya akan tumpah.
Ruh bukanlah hal yang demikian. Apabila seseorang manusia meninggal dunia atau apabila tubuh manusia itu hancur, maka ruhnya tetap utuh, tidak kurang suatu apapun. Ruh merupakan rahasia Allah SWT. Ruh tidak dapat diketahui atau dipelajari oleh siapa pun, sekalipun oleh para nabi dan rasul.

Ruh sebagai dimensi spiritual psikis manusia
Aspek jasmaniyah bersifat nyata (berbentuk, berkembang dan lain-lain), sedangkan aspek ruhaniyah bersifat spritual (karena ia merupakan potensi luhur batin manusia). Fungsi ini muncul dari dimensi ruh atau spiritual (sisi jiwa yang memiliki sifat-sifat ilahiyah dan memiliki daya untuk menarik dan mendorong dimensi-dimensi lainnya untuk mewujudkan sifat-sifat Allah dalam dirinya). Ini berarti ruh adalah aspek psikis (jiwa) yang bersifat spiritual dan transendental. Bersifat transendental karena mengatur hubungan manusia yang maha tinggi.
Dimensi psikis manusia yang langsung dari Allah adalah dimensi ruh. Dimensi ruh ini membawa sifat-sifat dan daya-daya yang dimiliki oleh sumbernya, yaitu Allah. Khalifah Allah dapat berarti mewujudkan sifat-sifat Allah secara nyata dalam kehidupannya di bumi untuk mengelola dan memanfaatkan bumi Allah. Tegasnya bahwa dimensi ruh merupakan daya potensialitas internal dan dalam diri manusia yang akan mewujudkan secara aktual sebagai khalifah Allah.

Ruh dipandang dari segi tasawuf
            Jika dilihat dari segi tasawwufnya, ruh adalah tempat, sumber kehidupan, akhlak terpuji, sangat halus, bersih dan bebas dari kekuasaan jiwa. Tetap suci, di dalamnya terkandung sifat-sifat Allah (dalam kapasitas terbatas). Dengan sifat-sifat inilah manusia dapat melakukan tugasnya sebagai khalifah Allah di bumi.

Referensi
Sit, Masganti. “Psikologi Agama”. Medan: Perdana Publishing. 2011
Suprayetno. “Psikologi Pendidikan”. Bandung: Cita Pustaka Media Perintis. 2009

HUBUNGAN AKHLAK DENGAN SAINS MODERN DAN KEADILAN



Hubungan Akhlak dengan Sains Modern
Hubungan akhlak dengan sains modern didasarkan atas kulminasi dari sains-sains tradisional dan modern. Sains modern merupakan bidang ilmu yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menenangkan segala bidang ilmu pengetahuan. 

Hubungan akhlak dengan keadilan
Akhlak dan berbuat adil sangat erat hubungannya, akhlak yang baik mampu berbuat adil, akhlak buruk terjadi penyimpangan hak dan keadilan. Keduanya saling berhubungan dan tarik menarik, tidak bisa dilepaskan antara satu dengan lainnya. Allah mengingatkan hambanya untuk selalu berbuat kebajikan dan keadilan, karena berbuat keadilan itu mendekatkan diri kepada taqwa. Manusia sebagai khalifah di bumi, wajib menerapkan konsep akhlak dan keadilan dalam kehidupannya sehari-hari. Intinya, dalam setiap tingkah laku dan perbuatan manusia harus mengacu kepada tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Abdullah, M. Yatimin. “Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Quran”. Jakarta: Amzah. 2007

KARAKTERISTIK AJARAN AKHLAK DALAM DUNIA SAINS



Karakteristik akhlaqul karimah adalah suatu karakter yang harus dimiliki oleh seorang muslim dengan berdasarkan Al-Quran dan Hadits dalam berbagai ilmu, kebudayaan, pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, politik pekerjaan, disiplin ilmu dan berbagai macam ilmu khusus.
Jadi, karakateristik ajaran akhlaqul karimah tidak terlepas dari berbagai bidang disiplin ilmu keislaman. Bidang-bidang tersebut sebagai berikut:
1)      Akhlak bidang ilmu dan kebudayaan
Karakteristik ajaran akhlaqul karimah dalam bidang kebudayaan merupakan penjelmaan (manifestasi) akal dan rasa manusia. Ini berarti manusialah yang menciptakan kebudayaan.
Karakteristik dalam ajaran akhlaqul karimah dalam bidang budaya, mengajarkan kepada seorang mukmin yang shaleh atau seorang mukmin yang sungguh-sungguh dalam menjalankan syariat islam untuk melaksanakan kebudayaan dan menggali dari sumber-sumber islam secara kaffah.
Pada surah Al-‘Alaq: 1-5) terdapat kata iqro’ diulang dua kali. Kata tersebut menurut A.Baiquni, berarti membaca dalam arti biasa, menelaah, mengobservasi, membandingkan, mengukur, mendeskripsikan, menganalisis, dan menyimpulkan secara deduktif.
Dari uraian ini maka karakteristik ajaran akhlaqul karimah dalam bidang ilmu dan kebudayaan bersifat terbuka, akomodatif, tetapi juga selektif.
2)      Akhlak bidang sosial
Ilmu sosial adalah ilmu yang berhubungan dengan masyarakat atau lingkungan sekitarnya. Karakteristik ajaran akhlaqul karimah di bidang ini termasuk yang paling menonjol, karena seluruh bidang ajaran akhlaqul karimah dalam bidang sosial ditujuakn untuk mensejahterakan manusia. Namun, secara khusus dalam bidang sosial ini akhlak islam menjunjung tinggi sifat tolong-menolong, saling menasehati, kesetiakawanan, tenggang rasa dan kebersamaan.
3)      Akhlak bidang ekonomi
Karakteristik akhlaqul karimah dalam sistem ekonomi islam merupakan kebebasan terhadap pemilikan harta kekayaan, nilai keseimbangan, dan nilai keadilan merupakan kebulatan nilai yang tidak dapat dipisahkan.
4)      Akhlak bidang kesehatan
Karakteristik ajaran akhlaqul karimah mewajibkan memelihara kesehatan dengan cara: mengajak dan menganjurkan orang lain untuk menjaga kebersihan dan lingkungan, merawat kesehatan dengan berolahraga, segera mengobati jika jatuh sakit, dan lain-lain.
            Karakteristik ajaran akhlaqul karimah tentang kesehatan berpedoman pada prinsip pencegahan lebih baik dari pada mengobati.
5)      Akhlak bidang politik
Politik adalah pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan, seperti, tata cara pemerintahan dan lain-lain. Karakteristik ajaran akhlaqul karimah dalam bidang politik sperti mentaati pemimpin yang benar, musyawarah dan lain-lain.
6)      Akhlak bidang sains modern
Sains modern adalah suatu sikap taat terhadap peraturan suatu bidang ilmu yang tersusun secara sistematis untuk meciptakan berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
            Karakteristik ajaran akhlaqul karimah mengenai sains modern sangat dibutuhkan, sebab menerapkan sains modern pada seseorang, membuat seseorang tersebut tetap berpegang teguh pada peraturan dan takkan tergoyangkan akidahnya. Sebagai ajaran yang berkenaan dengan berbagai bidang kehidupan, karakteristik ajaran akhlaqul karimah tampil sebagai sebuah disiplin ilmu, yaitu ilmu akhlaqul karimah.


SIFAT WUDHU & SHALAT NABI SAW


A.    SIFAT WUDHU NABI SAW
*      Pengertian Wudhu
Wudhu: huruf wawu diharakati dengan fathah mempunyai pengertian airnya (air untuk berwudhu) dan juga masdar (asal-usul kata) atau dua istilah yang mengandung pengertian sama, yaitu keduanya berpengertian mashdar dan terkadang keduanya bermakna air untuk berwudhu.
Wudhu menurut syariat adalah menggunakan air suci ke atas anggota tubuh tertentu yang telah dijelaskan dan disyariatkan Allah SWT.

*      Dasar Hukum Wudhu
$pkšr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä #sŒÎ) óOçFôJè% n<Î) Ío4qn=¢Á9$# (#qè=Å¡øî$$sù öNä3ydqã_ãr öNä3tƒÏ÷ƒr&ur n<Î) È,Ïù#tyJø9$# (#qßs|¡øB$#ur öNä3ÅrâäãÎ/ öNà6n=ã_ör&ur n<Î) Èû÷üt6÷ès3ø9$# 4
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)
Dari Abu Hurairah menyatakan, Rasulullah bersabda:
لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
Artinya: “Tidaklah diterima shalat seseorang dari kamu jika berhadats hingga ia berwudhu.” (Muttafaq Alaih, Fathul Bari I/ 206, Muslim No. 225 dan lainnya)

*      Keutamaan Wudhu
1.      Menghapuskan kesalahan-kesalahan dan menaikkan beberapa derajat

Dari Abu Hurairah menyatakan, Rasulullah bersabda:
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ إسْبَاغُ الوُضُوءِ عَلَى المَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الخَطَا إِلَى المَسَاجِد وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُم الرِّبَاطُ
Artinya: “Maukah kalian aku tunjukkan pada sesuatu yang Allah hapuskan kesalahan-kesalahan dan dia naikkan beberapa derajat dengannya?” mereka (para sahabat) menjawab: “ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “yaitu menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak menyenangkan (musim dingin) dan memperbanyak langkah ke masjid dan menunggu shalat sesudah shalat. Maka itulah pengikat, itulah pengikat, itulah pengikat.” (Muslim I/ 151 dan lainnya Muhtashar Shahih Muslim 133)
2.      Menghapuskan dosa
Dari Abu Hurairah bahwasannya rasulullah bersabda:
إذَا تَوَضَّأَ العَبْدُ المُسْلِمُ أَو المُؤمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنِهِ مَعَ المَاءِ أَو مَعَ آخِرِ قَطْرِ المَاءِ فإذا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِن يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ المَاءِ أو مَعَ آخِرِ قَطْرِ المَاءِ فإذا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ المَاءِ أو مَعَ آخِرِ قَطْرِ المَاءِ حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيَّا مِنَ الذُّنُوبِ
Artinya: “Apabila seorang hamba muslim atau hamba mukmin berwudhu, maka ketika ia membasuh mukanya, keluarlah setiap dosa pandangan yang dilakukan matanya dari wajahnya bersama air atau bersama tetes akhir yang terakhir; maka ketika ia mencuci kedua tangannya, keluarlah setiap dosa yang telah dianiaya tangannya dari keduanya bersama air atau tetes air yang terakhir; maka ketika ia mencuci kedua kakinya, keluarlah setiap dosa yang dilangkahkan kakinya, bersama air atau tetes air terakhir, sehingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.” (Muslim I/ 148 dan lainnya Mukhtashar Shahih Muslim 121).
3.      Diampunkan dosanya yang telah lalu (Muslim III/ 113)

*      Sifat Wudhu Nabi SAW
1.      Niat (Fathul Bari I/ 9, Muslim VI/ 48, Mustashar Shahih Muslim/ 180)
Yaitu: kehendak hati untuk mengerjakan wudhu mengikuti perintah Allah dan rasulnya.
2.      Menyebut nama Allah (Ibnu Majah No.399, At-Tirmidzi No. 26, Abu Daud No. 101 dan lainnya. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits shahih di dalam Shahih Al-Jami’ No. 7444)
3.      Mencuci dua telapak tangan (Fathul Bari I/255; Muslim III/121)
4.      Madhmadhah dan istinsyaq
Madhmadhah adalah mencuci mulut dan berkumur. Istinsyaq adalah memasukkan air ke dalam hidung dengan menghirupnya bersama nafas hingga ke bagian hidung yang terdalam. Istintsar adalah mengeluarkan air dari hidung sesudah istinsya.
5.      Menyatukan antara berkumur dan istinsyaq dengan sekali cidukan (HR. Al-Bukhari dan Muslim, Muslim III/123)
6.      Ber-istinsyaq dan istintsar (Muttafaq Alaih, Fathul Bari I/299, Muslim No. 237; Abu Daud No. 140)
7.      Ber-istinsyaq dengan tangan kanan istintsar dengan tangan kiri (HR. Ad-Darimi, Al-Albani menyatakan dalam komentarnya atas kitab Al-Misykah, yaitu sanadnya shahih)
8.      Membasuh muka (QS. Al-Ma’idah: 6, Fathul Bari XI/312 dan Muslim No. 226)
9.      Menyela-nyelai jenggot (HR. Abu Daud No. 145; Al-Baihaqi I/54; Al-Hakim I/149; Syaikh Al-Albani menyatakan hadits shahih di dalam Shahih Al-jami’ No.4572)
10.  Membasuh dua tangan hingga siku (QS. Al-Ma’idah: 6)
11.  Membasuh kepala, telinga, dan sorban (QS. Al-Ma’idah: 6)
12.  Membasuh kedua tangan (At-Tirmidzi  No. 37; Abu Daud No. 134; Ibnu Majah No. 444; Al-Albani menyatakan hadits shahih Ash-Shahihah I/36; Dan Imam Ahmad berpendapat bahwa membasuh dua telinga hukumnya menyapu kepala)
13.  Mengambil air baru untuk menyapu kepala dan dua telinga
14.  Mengusap sorban tersendiri
عَنِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى عِمَامَتِهِ وَخُفَّيْهِ
Artinya: Dari 'Amru bin Umayyah berkata, "Aku melihat Nabi SAW mengusap sorban dan kedua kaos kakinya." (HR. Al-Bukhari, Fathul Bari I/266 dan lainnya)
15.  Mengusap rambut ubun-ubun dan sorban (HR. Muslim I/ 159; Mukhtasar Shahih Muslim 140)
16.  Mencuci kedua kaki sampai dengan mata kaki (QS. Al-Ma’idah: 6)
Adapun kopiah/ peci maka tidak boleh mengusapnya. Imam ahmad memberikan ketentuan hukumnya dengan alasan bahwa di dalam adat memakainya tidak dapat menutupi seluruh kepala. Dan tidak ada kerusakan dalam menanggalkannya.
Adapun kain kerudung perempuan, maka boleh mengusapnnya karena Ummu Salamah sering mengusap kerudungnya (menurut Ibnu Al-Mudzir, rujuk Al-Mughni I/321)
17.  Bantahan bagi orang yang mengatakan mengusap kaki bukan mencuci
(QS. Al-Ma’idah: 6) kata “arjulakum” itu mengikuti (‘athaf) “aidiyakum” yang berarti mencuci, bukan mengathafkan ke “ruusikum” yang berarti membasuh. Ini sejalan dengan HR. Muslim I/150, Mukhtashar Shahih Muslim 129.
18.  Bersiwak  (HR. At-Tirmidzi No.22 dan ia mengatakan hasan shahih; Malik No.123, Ahmad IV/116; Abu Daud No.37 dan yang lainnya; Al-Albani mengatakan shahih di dalam Al-Miskah hadits No.390)
19.  Ad-Dalk
Adalah melewatkan tangan pembasuh di atas anggota yang dibasuh bersama air. (Abu Daud No.148; At-Tirmidzi No.40, Ibnu Majah No.446. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits Shahih Al-Jami’ No.4576)
20.  Tertib wudhu seperti diterangkan dalam ayat Al-Quran (QS. Al-Ma’idah:6)
21.    Al-Mawalah (memberturut-turutkan antara anggota-anggota tubuh yang satu sesudah yang lain)
22.  Tayamum (Fathul Bari I/235; Muslim No.268 dan yang lainnya)
23.  Hemat dan tidak berlebihan dalam memakai air (HR. Muslim I/156, Muhtashar Shahih Muslim 136 dan yang lainnya)
24.  Doa setelah wudhu (HR. Muslim No.234)
25.  Berwudhu satu kali untuk setiap anggota badan (Al-Bukhari, Fathul Bari I/226)
26.  Berwudhu dua kali untuk setiap anggota badan (Al-Bukhari, Fathul Bari I/226)
27.  Berwudhu tiga kali untuk setiap anggota badan (HR. Ahmad IV/132, Abu Daud I/19 dengan isnad yang shahih)
28.  Anjuran berwudhu pada setiap kali sholat
29.  Orang yang syak dalam hadats, mendasarkan pada yang yakin (Muslim Syarh An-Nawawi IV/51; aridhatul ahwadzi I/79)
30.  Laki-laki dan wanita berwudhu dari satu bejana/ bersuci dari sisa air (HR. Abu Daud No.68, dan yang lainnnya)
31.  Berwudhu karena memakan daging unta (HR. Muslim I/189; Mukhtashar Shahih Muslim 146)
32.  Mengeringkan anggota badan sesudah thaharah (HR. Ibnu Majah No. 468)

*      Pembatal-pembatal wudhu
1.      Keluar sesuatu pada dua jalan (QS. Al-Ma’idah: 6)
2.      Tidur nyenyak (HR. Abu Daud No.203; Ibnu Majah No. 477; Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani Shahih Al-Jami’ No. 4045)
3.      Hilang akal selain tidur (Syarh Muslim IV/74; Al-Mughni I/164)
4.      Menyentuh kemaluan tanpa penyekat (HR. Al-Hakim I/136 dan yang lainnya)
5.      Menyentuh zakar (HR. Tirmidzi I/18)
6.      Menyentuh wanita dengan syahwat (HR. Muttafaq Alaih)
B.     SIFAT SHALAT NABI SAW
*      Pengertian Shalat
Shalat adalah rukun islam yang kedua dan ia merupakan rukun yang sangat ditekankan sesudah dua kalimat syahadat. Yaitu, diawali dengan takbir adan diakhiri dengan salam.
Shalat adalah:
1.      Penghubung antara hamba dengan Rabbnya (HR. Al-Bukhari)
2.      Bentuk permohonan pertolongan dalam berbagai fungsi atau misi (QS. Al-Baqarah: 153)
3.      Mencegah dari berbuat keji dan mungkin (QS. Al-Ankabut: 45)
4.      Cahaya dalam hati orang mukmin dan pada hari mereka dikumpulkan di padang mahsyar (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani)
5.      Kesenangan serta penghibur diri bagi orang beriman (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)
6.      Penghapus dosa serta penutup kejelekan (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
7.      Khusyu’ dalam shalat salah satu penyebab masuk syurga (QS. Al-Mu’minun: 1-11)

*      Tata Cara Shalat Nabi SAW
1.      Niat
2.      Takbiratul ihram
3.      Membaca doa Iftitah
4.      Membaca Taawudz
5.      Membaca Al-Fatihah
6.      Setelah selesai membaca Al-Fatihah, beliau diam
7.      Setelah membaca Al-Fatihah, beliau membaca surat yang lainnya
8.      Bila selesai membaca surat, sebelum ruku’, beliau diam sekedar keperluan
9.      Beliau bangun dari ruku’ dengan mengangkat kedua tangannya sambil mengucapkan
سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ اللهم رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ (HR. Muslim)
10.  Beliau bertakbir dan menyungkur sujud (tanpa mengangkat kedua tangannya)
11.  Beliau mengangkat kepalanya sambil bertakbir tanpa mengangkat tangannya
12.  Beliau melakukan sujud yang kedua seperti sujud pertama. Lalu bangkit dari sujudnya hingga duduk sempurna
13.  Apabila beliau berdiri untuk rakaat yang kedua (beliau langsung membuka bacaannya dan tidak diam)
14.  Nabi duduk tasyahud
15.  Beliau berdiri sambil bertakbir
16.  Kemudian beliau membaca surah al-fatihah saja tanpa surah
17.  Beliau duduk tawarruk pada tasyahudnya yang terakhir
18.  Dalam tasyahud akhir beliau mengucapkan:
التَّحِيَّاتُ - الخ(HR. Bukhari)
19.  Apabila beliau telah selesai dari membaca tasyahud akhir; sebelum berdoa beliau memohon perlindungan dari empat hal, yaitu mengucapkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جهنم وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ المحيا والممات وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
20.  Beliau berdoa dalam shalatnya dengan doa yang bermacam-macam
21.  Kemudian beliau mengucapkan salam ke kanan hingga nampak putih pipi kanannya, dengan ucapan:
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
22.  Apabila beliau telah bersalam, beliau beristigfar tiga kali (menghadap kiblat), lalu mengucapkan:
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

C.    DZIKIR-DZIKIR SESUDAH SHALAT
Sunnah mengucapkan dzikir-dzikir ini pada setiap selesai mengerjakan shalat fardhu adalah berdasarkan pada Nabi SAW:
أَسْتَغْفِرُ الله          3x
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَه،ُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
 لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
 سبحان اللَّهُ          3x
 الله أكبر             3x
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
D.    DZIKIR DAN DOA HARIAN YANG BERSUMBER DARI NABI SAW
Dzikir kepada Allah adalah amal perbuatan yang paling utama dan pahalanya sangat besar. Menyibukkan diri dengan dzikir sebagai ganti tenggelam dalam pembicaraan yang tidak berguna, jauh lebih baik untuk kehidupan dunia serta agama.
Beberapa doa harian yang bersumber dari Nabi SAW, diantaranya:
1
Bangun Tidur
(HR. Bukhari)
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُور
2
Masuk WC
(HR. Bukhari)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
3
Sesudah Adzan
(HR. Bukhari)
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
4
Sesudah Makan
(HR. Bukhari)
الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا
5
Selesai Wudhu
(HR. Muslim)
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
Dan masih banyak yang lainnya

E.     HUKUM NYANYIAN DAN MENDENGARKANNYA
Mendengarkan nyanyian adalah haram dan mungkar, penyebab penyakit hati dan mengeraskannya, menghalangi seseorang untuk berdzikir kepada Allah dan shalat.
Sebagian ulama sepakat akan pengharamannya dan mereka menyebutkan dalil-dalil pengharamannya:
1.      QS. Al-Luqman: 6
z`ÏBur Ĩ$¨Z9$# `tB ÎŽtIô±tƒ uqôgs9 Ï]ƒÏysø9$# ¨@ÅÒãÏ9 `tã È@Î6y «!$# ÎŽötóÎ/ 5Où=Ïæ $ydxÏ­Gtƒur #·râèd 4 y7Í´¯»s9'ré& öNçlm; Ò>#xtã ×ûüÎgB ÇÏÈ  
Artinya: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan Perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
Al-Wahadi dan para mufassirin yang lainnya berkata bahwa yang dimaksud dengan ]ƒÏysø9$#qôgs9 pada ayat tersebut adalah nyanyian, menurut perkataan Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Mujahid, dan Ikrimah. “Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, bahwa nyanyian itulah yang dimaksud ]ƒÏysø9$#qôgs9.” (Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud). Apabila bersama nyanyian tersebut dimainkan dengan alat musik seperti rebana, mandolin, biola, dan genderang maka menjadi bertambah sangat keharamannya. Sebagian ulama menyatakan bahwa nyanyian dengan alat musik diharamkan sama sekali.
Dalam pernikahan, disyariatkan untuk membunyikan rebana dengan nyanyian yang biasa digunakan. Namun, nyanyian yang dinyanyikan tidak ada ajakan kepada perbuatan haram dan tidak pula pujian yang diharamkan.

F.     HUKUM GAMBAR
Banyak hadits dari Rasulullah di dalam kitab Shahih dan Musnad serta Sunan, yang menunjukkan pengharaman semua gambar benda yang mempunyai ruh, baik manusia maupun yang lain. Perintah menanggalkan tirai yang bergambar dan untuk menghapus gambar, serta pelaknatan terhadap tukang gambar dan penjelasan bahwasannya tukang gambar adalah orang yang mendapat azab yang pedih pada hari kiamat.
Dalam kitab shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah berkata, “rasulullah bersabda, Allah berfirman:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ خَلْقًا كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا شَعِيرَةً "
Artinya: Dan siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang menciptakan seperti ciptaanku? Hendaklah ia ciptakan sebutir biji atau hendaklah ia ciptakan sebutir gandum” (HR. Muslim)
Juga dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Said berkata, Rasulullah bersabda:
إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang yang mendapat siksaan paling pedih pada hari kiamat adalah para tukang gambar.”
Juga dalam kitab Bukhari Muslim, dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda:
إِنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ
“Sesungguhnya mereka yang membuat gambar-gambar akan disiksa pada hari kiamat. Akan dikatakan kepada mereka, “Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.” (HR. Al-Bukhari No. 5961 dan Muslim No. 5535)
            Dari Ibnu Abbas, saya mendengar Rasulullah bersabda:
مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فِي الدُّنْيَا كُلِّفَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ
Artinya: “Barangsiapa satu gambar di dunia, dia akan dibebani untuk meniupkan ruh padanya, sedang ia tidak akan bisa meniupkan satu ruh.” (HR. Muttafaq Alaih)


G.    HUKUM MENURUNKAN KAIN
Menurunkan kain jika bertujuan untuk kesombongan, maka akibatnya di hari kiamat Allah tidak akan melihat kepadanya, tidak pula mengajak bicara serta mensucikannya dan baginya azab yang pedih. Adapun jika bukan untuk kesombongan, maka akibatnya akan disiksa bagian yang ada dibawah mata kaki di dalam api neraka.
لَا يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا
Artinya: "Pada hari kiamat kelak, Allah tidak akan melihat orang yang menjulurkan kain sarungnya karena sombong." (HR. Bukhari)

H.    TAUBAT
Taubat adalah keluar dari maksiat kepada Allah SWT untuk taat kepadanya.  Dan taubat itu wajib bagi setiap mukmin.
$pkšr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqç/qè? n<Î) «!$# Zpt/öqs? %·nqÝÁ¯R
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan Nasuha (taubat yang semurni-murninya). (QS. At-Tahrim: 8)
Taubat Nasuha adalah taubat yang dikumpulkan di dalamnya 5 syarat:
1.      Ikhlas karena Allah.
2.      Menyesali perbuatan dan berkeinginan keras untuk tidak berbuat lagi.
3.      Segera meninggalkan maksiat.
4.      Bercita-cita tidak akan kembali lagi pada perbuatan maksiat di masa mendatang.
5.      Tidak menjadikan taubatnya berhenti sebelum di terimanya, yaitu sebelum datang ajal atau terbitnya matahari dari barat. (HR. Muslim, QS. An-nisa’: 18)

Judul Buku                : Sifat Wudhu & Shalat Nabi SAW
Pengarang                 : Syaikh Muhammad Fadh dan Syaikh Abdul Aziz Bin Baz
Penerbit                     : Pustaka Al-Kautsar
Tahun Terbit             : 2011
Jumlah Halaman       : 144 Halaman