A. SIFAT WUDHU NABI SAW
Pengertian Wudhu
Wudhu: huruf wawu diharakati dengan fathah
mempunyai pengertian airnya (air untuk berwudhu) dan juga masdar (asal-usul
kata) atau dua istilah yang mengandung pengertian sama, yaitu keduanya
berpengertian mashdar dan terkadang keduanya bermakna air untuk berwudhu.
Wudhu menurut syariat adalah menggunakan air suci ke atas
anggota tubuh tertentu yang telah dijelaskan dan disyariatkan Allah SWT.
Dasar Hukum Wudhu
$pkr'¯»t
úïÏ%©!$#
(#þqãYtB#uä
#sÎ)
óOçFôJè%
n<Î)
Ío4qn=¢Á9$#
(#qè=Å¡øî$$sù
öNä3ydqã_ãr
öNä3tÏ÷r&ur
n<Î)
È,Ïù#tyJø9$#
(#qßs|¡øB$#ur
öNä3ÅrâäãÎ/
öNà6n=ã_ör&ur
n<Î)
Èû÷üt6÷ès3ø9$#
4
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan
siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.”
(QS. Al-Maidah: 6)
Dari Abu Hurairah menyatakan, Rasulullah bersabda:
لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
Artinya: “Tidaklah diterima shalat seseorang dari kamu jika berhadats
hingga ia berwudhu.” (Muttafaq Alaih, Fathul Bari I/ 206, Muslim No. 225 dan
lainnya)
Keutamaan Wudhu
1. Menghapuskan kesalahan-kesalahan dan menaikkan beberapa derajat
Dari Abu Hurairah menyatakan, Rasulullah bersabda:
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ
الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ إسْبَاغُ الوُضُوءِ عَلَى
المَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الخَطَا إِلَى المَسَاجِد وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ
الصَّلَاةِ فَذَلِكُم الرِّبَاطُ
Artinya: “Maukah kalian aku tunjukkan pada sesuatu yang
Allah hapuskan kesalahan-kesalahan dan dia naikkan beberapa derajat dengannya?”
mereka (para sahabat) menjawab: “ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “yaitu
menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak menyenangkan (musim dingin) dan
memperbanyak langkah ke masjid dan menunggu shalat sesudah shalat. Maka itulah
pengikat, itulah pengikat, itulah pengikat.” (Muslim I/ 151 dan lainnya Muhtashar
Shahih Muslim 133)
2. Menghapuskan dosa
Dari Abu Hurairah bahwasannya rasulullah bersabda:
إذَا تَوَضَّأَ
العَبْدُ المُسْلِمُ أَو المُؤمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ
خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنِهِ مَعَ المَاءِ أَو مَعَ آخِرِ قَطْرِ
المَاءِ فإذا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِن يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ
بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ المَاءِ أو مَعَ آخِرِ قَطْرِ المَاءِ فإذا غَسَلَ
رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ المَاءِ أو مَعَ
آخِرِ قَطْرِ المَاءِ حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيَّا مِنَ الذُّنُوبِ
Artinya: “Apabila seorang hamba muslim atau hamba mukmin
berwudhu, maka ketika ia membasuh mukanya, keluarlah setiap dosa pandangan yang
dilakukan matanya dari wajahnya bersama air atau bersama tetes akhir yang
terakhir; maka ketika ia mencuci kedua tangannya, keluarlah setiap dosa yang
telah dianiaya tangannya dari keduanya bersama air atau tetes air yang
terakhir; maka ketika ia mencuci kedua kakinya, keluarlah setiap dosa yang
dilangkahkan kakinya, bersama air atau tetes air terakhir, sehingga ia keluar
dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.” (Muslim I/ 148 dan lainnya Mukhtashar
Shahih Muslim 121).
3. Diampunkan dosanya yang telah lalu (Muslim III/ 113)
Sifat Wudhu Nabi SAW
1. Niat (Fathul Bari I/ 9, Muslim VI/ 48, Mustashar Shahih Muslim/ 180)
Yaitu: kehendak hati untuk mengerjakan wudhu mengikuti
perintah Allah dan rasulnya.
2.
Menyebut nama Allah (Ibnu Majah No.399,
At-Tirmidzi No. 26, Abu Daud No. 101 dan lainnya. Syaikh Al-Albani menyatakan
hadits shahih di dalam Shahih Al-Jami’ No. 7444)
3. Mencuci dua telapak tangan (Fathul Bari I/255; Muslim III/121)
4.
Madhmadhah dan istinsyaq
Madhmadhah adalah mencuci mulut dan berkumur. Istinsyaq adalah memasukkan air
ke dalam hidung dengan menghirupnya bersama nafas hingga ke bagian hidung yang
terdalam. Istintsar adalah mengeluarkan air dari hidung sesudah istinsya.
5.
Menyatukan antara berkumur dan istinsyaq
dengan sekali cidukan (HR. Al-Bukhari dan Muslim, Muslim III/123)
6. Ber-istinsyaq dan istintsar (Muttafaq Alaih, Fathul Bari
I/299, Muslim No. 237; Abu Daud No. 140)
7. Ber-istinsyaq dengan tangan kanan istintsar dengan tangan
kiri (HR. Ad-Darimi, Al-Albani menyatakan dalam komentarnya atas kitab
Al-Misykah, yaitu sanadnya shahih)
8. Membasuh muka (QS. Al-Ma’idah: 6, Fathul Bari XI/312 dan Muslim No. 226)
9. Menyela-nyelai jenggot (HR. Abu Daud No. 145; Al-Baihaqi I/54; Al-Hakim
I/149; Syaikh Al-Albani menyatakan hadits shahih di dalam Shahih Al-jami’
No.4572)
10. Membasuh dua tangan hingga siku (QS. Al-Ma’idah: 6)
11. Membasuh kepala, telinga, dan sorban (QS. Al-Ma’idah: 6)
12. Membasuh kedua tangan (At-Tirmidzi
No. 37; Abu Daud No. 134; Ibnu Majah No. 444; Al-Albani menyatakan
hadits shahih Ash-Shahihah I/36; Dan Imam Ahmad berpendapat bahwa membasuh dua
telinga hukumnya menyapu kepala)
13. Mengambil air baru untuk menyapu kepala dan dua telinga
14.
Mengusap sorban tersendiri
عَنِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ قَالَ رَأَيْتُ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى عِمَامَتِهِ
وَخُفَّيْهِ
Artinya: Dari 'Amru bin Umayyah berkata, "Aku
melihat Nabi SAW mengusap sorban dan kedua kaos kakinya." (HR. Al-Bukhari,
Fathul Bari I/266 dan lainnya)
15.
Mengusap rambut ubun-ubun dan sorban (HR.
Muslim I/ 159; Mukhtasar Shahih Muslim 140)
16.
Mencuci kedua kaki sampai dengan mata kaki
(QS. Al-Ma’idah: 6)
Adapun kopiah/ peci maka tidak boleh mengusapnya. Imam
ahmad memberikan ketentuan hukumnya dengan alasan bahwa di dalam adat
memakainya tidak dapat menutupi seluruh kepala. Dan tidak ada kerusakan dalam
menanggalkannya.
Adapun kain kerudung perempuan, maka boleh mengusapnnya
karena Ummu Salamah sering mengusap kerudungnya (menurut Ibnu Al-Mudzir, rujuk
Al-Mughni I/321)
17.
Bantahan bagi orang yang mengatakan mengusap
kaki bukan mencuci
(QS. Al-Ma’idah: 6) kata “arjulakum” itu mengikuti (‘athaf) “aidiyakum”
yang berarti mencuci, bukan mengathafkan ke “ruusikum” yang berarti
membasuh. Ini sejalan dengan HR. Muslim I/150, Mukhtashar Shahih Muslim 129.
18.
Bersiwak (HR. At-Tirmidzi No.22 dan ia mengatakan hasan
shahih; Malik No.123, Ahmad IV/116; Abu Daud No.37 dan yang lainnya; Al-Albani
mengatakan shahih di dalam Al-Miskah hadits No.390)
19. Ad-Dalk
Adalah melewatkan tangan pembasuh di atas anggota yang dibasuh bersama air.
(Abu Daud No.148; At-Tirmidzi No.40, Ibnu Majah No.446. Syaikh Al-Albani
menyatakan hadits Shahih Al-Jami’ No.4576)
20.
Tertib wudhu seperti diterangkan dalam ayat
Al-Quran (QS. Al-Ma’idah:6)
21. Al-Mawalah (memberturut-turutkan antara anggota-anggota tubuh yang satu sesudah yang
lain)
22. Tayamum (Fathul Bari I/235; Muslim No.268 dan yang lainnya)
23. Hemat dan tidak berlebihan dalam memakai air (HR. Muslim I/156, Muhtashar
Shahih Muslim 136 dan yang lainnya)
24. Doa setelah wudhu (HR. Muslim No.234)
25. Berwudhu satu kali untuk setiap anggota badan (Al-Bukhari, Fathul Bari
I/226)
26. Berwudhu dua kali untuk setiap anggota badan (Al-Bukhari, Fathul Bari
I/226)
27. Berwudhu tiga kali untuk setiap anggota badan (HR. Ahmad IV/132, Abu Daud
I/19 dengan isnad yang shahih)
28. Anjuran berwudhu pada setiap kali sholat
29. Orang yang syak dalam hadats, mendasarkan pada yang yakin (Muslim
Syarh An-Nawawi IV/51; aridhatul ahwadzi I/79)
30. Laki-laki dan wanita berwudhu dari satu bejana/ bersuci dari sisa air (HR.
Abu Daud No.68, dan yang lainnnya)
31. Berwudhu karena memakan daging unta (HR. Muslim I/189; Mukhtashar Shahih
Muslim 146)
32. Mengeringkan anggota badan sesudah thaharah (HR. Ibnu Majah No. 468)
Pembatal-pembatal wudhu
1. Keluar sesuatu pada dua jalan (QS. Al-Ma’idah: 6)
2. Tidur nyenyak (HR. Abu Daud No.203; Ibnu Majah No. 477; Ahmad dan
dishahihkan oleh Al-Albani Shahih Al-Jami’ No. 4045)
3. Hilang akal selain tidur (Syarh Muslim IV/74; Al-Mughni I/164)
4. Menyentuh kemaluan tanpa penyekat (HR. Al-Hakim I/136 dan yang lainnya)
5. Menyentuh zakar (HR. Tirmidzi I/18)
6. Menyentuh wanita dengan syahwat (HR. Muttafaq Alaih)
B. SIFAT SHALAT NABI SAW
Pengertian Shalat
Shalat adalah rukun islam yang kedua dan ia merupakan
rukun yang sangat ditekankan sesudah dua kalimat syahadat. Yaitu, diawali
dengan takbir adan diakhiri dengan salam.
Shalat adalah:
1.
Penghubung antara hamba dengan Rabbnya (HR.
Al-Bukhari)
2. Bentuk permohonan pertolongan dalam berbagai fungsi atau misi (QS.
Al-Baqarah: 153)
3. Mencegah dari berbuat keji dan mungkin (QS. Al-Ankabut: 45)
4. Cahaya dalam hati orang mukmin dan pada hari mereka dikumpulkan di padang
mahsyar (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani)
5. Kesenangan serta penghibur diri bagi orang beriman (HR. Ahmad dan
An-Nasa’i)
6. Penghapus dosa serta penutup kejelekan (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
7.
Khusyu’ dalam shalat salah satu penyebab masuk
syurga (QS. Al-Mu’minun: 1-11)
Tata Cara Shalat Nabi SAW
1. Niat
2. Takbiratul ihram
3. Membaca doa Iftitah
4. Membaca Taawudz
5. Membaca Al-Fatihah
6. Setelah selesai membaca Al-Fatihah, beliau diam
7. Setelah membaca Al-Fatihah, beliau membaca surat yang lainnya
8. Bila selesai membaca surat, sebelum ruku’, beliau diam sekedar keperluan
9.
Beliau bangun dari ruku’ dengan mengangkat
kedua tangannya sambil mengucapkan
سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ اللهم رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ أَهْلَ الثَّنَاءِ
وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ اللَّهُمَّ لَا
مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا
الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ (HR. Muslim)
10.
Beliau bertakbir dan menyungkur sujud (tanpa
mengangkat kedua tangannya)
11. Beliau mengangkat kepalanya sambil bertakbir tanpa mengangkat tangannya
12. Beliau melakukan sujud yang kedua seperti sujud pertama. Lalu bangkit dari
sujudnya hingga duduk sempurna
13. Apabila beliau berdiri untuk rakaat yang kedua (beliau langsung membuka
bacaannya dan tidak diam)
14. Nabi duduk tasyahud
15. Beliau berdiri sambil bertakbir
16. Kemudian beliau membaca surah al-fatihah saja tanpa surah
17. Beliau duduk tawarruk pada tasyahudnya yang terakhir
18.
Dalam tasyahud akhir beliau mengucapkan:
التَّحِيَّاتُ - الخ(HR. Bukhari)
19.
Apabila beliau telah selesai dari membaca
tasyahud akhir; sebelum berdoa beliau memohon perlindungan dari empat hal,
yaitu mengucapkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ
جهنم وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ المحيا والممات وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ
الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
20.
Beliau berdoa dalam shalatnya dengan doa yang
bermacam-macam
21.
Kemudian beliau mengucapkan salam ke kanan
hingga nampak putih pipi kanannya, dengan ucapan:
السلام عليكم و
رحمة الله و بركاته
22.
Apabila beliau telah bersalam, beliau
beristigfar tiga kali (menghadap kiblat), lalu mengucapkan:
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ
تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
C. DZIKIR-DZIKIR SESUDAH SHALAT
Sunnah mengucapkan dzikir-dzikir ini pada setiap selesai mengerjakan shalat
fardhu adalah berdasarkan pada Nabi SAW:
أَسْتَغْفِرُ الله 3x
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ
تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ
لَه،ُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ
الْفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ
لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا
مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
سبحان اللَّهُ 3x
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ
لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ
الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا
فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا
بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ
إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ
حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
D. DZIKIR DAN DOA HARIAN YANG BERSUMBER DARI NABI SAW
Dzikir kepada Allah adalah amal perbuatan yang paling
utama dan pahalanya sangat besar. Menyibukkan diri dengan dzikir sebagai ganti
tenggelam dalam pembicaraan yang tidak berguna, jauh lebih baik untuk kehidupan
dunia serta agama.
Beberapa doa harian yang bersumber dari Nabi
SAW, diantaranya:
|
1
|
Bangun Tidur
(HR. Bukhari)
|
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ
مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُور
|
|
2
|
Masuk WC
(HR. Bukhari)
|
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ
الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
|
|
3
|
Sesudah Adzan
(HR. Bukhari)
|
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ
التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ
وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ
لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
|
|
4
|
Sesudah Makan
(HR. Bukhari)
|
الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا
مُبَارَكًا فِيهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ
رَبَّنَا
|
|
5
|
Selesai Wudhu
(HR. Muslim)
|
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ
أَيِّهَا شَاءَ
|
Dan masih banyak yang lainnya
E. HUKUM NYANYIAN DAN MENDENGARKANNYA
Mendengarkan nyanyian adalah haram dan mungkar, penyebab
penyakit hati dan mengeraskannya, menghalangi seseorang untuk berdzikir kepada
Allah dan shalat.
Sebagian ulama sepakat akan pengharamannya dan mereka
menyebutkan dalil-dalil pengharamannya:
1.
QS. Al-Luqman: 6
z`ÏBur
Ĩ$¨Z9$#
`tB
ÎtIô±t
uqôgs9
Ï]Ïysø9$#
¨@ÅÒãÏ9
`tã
È@Î6y
«!$#
ÎötóÎ/
5Où=Ïæ
$ydxÏGtur
#·râèd
4 y7Í´¯»s9'ré&
öNçlm;
Ò>#xtã
×ûüÎgB
ÇÏÈ
Artinya: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan Perkataan
yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa
pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan
memperoleh azab yang menghinakan.
Al-Wahadi dan para mufassirin yang lainnya berkata bahwa
yang dimaksud dengan ]Ïysø9$#qôgs9 pada ayat tersebut adalah nyanyian, menurut
perkataan Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Mujahid, dan Ikrimah. “Demi Allah yang tidak
ada tuhan selain Dia, bahwa nyanyian itulah yang dimaksud ]Ïysø9$#qôgs9.” (Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud). Apabila
bersama nyanyian tersebut dimainkan dengan alat musik seperti rebana, mandolin,
biola, dan genderang maka menjadi bertambah sangat keharamannya. Sebagian ulama
menyatakan bahwa nyanyian dengan alat musik diharamkan sama sekali.
Dalam pernikahan, disyariatkan untuk membunyikan rebana
dengan nyanyian yang biasa digunakan. Namun, nyanyian yang dinyanyikan tidak
ada ajakan kepada perbuatan haram dan tidak pula pujian yang diharamkan.
F. HUKUM GAMBAR
Banyak hadits dari Rasulullah di dalam kitab Shahih dan
Musnad serta Sunan, yang menunjukkan pengharaman semua gambar benda yang
mempunyai ruh, baik manusia maupun yang lain. Perintah menanggalkan tirai yang
bergambar dan untuk menghapus gambar, serta pelaknatan terhadap tukang gambar
dan penjelasan bahwasannya tukang gambar adalah orang yang mendapat azab yang
pedih pada hari kiamat.
Dalam kitab shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu
Hurairah berkata, “rasulullah bersabda, Allah berfirman:
وَمَنْ أَظْلَمُ
مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ خَلْقًا كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً أَوْ
لِيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا شَعِيرَةً "
Artinya: Dan siapakah
yang lebih dhalim daripada orang yang menciptakan seperti ciptaanku? Hendaklah
ia ciptakan sebutir biji atau hendaklah ia ciptakan sebutir gandum” (HR. Muslim)
Juga dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Said
berkata, Rasulullah bersabda:
إِنَّ
أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang yang mendapat siksaan paling pedih pada hari kiamat
adalah para tukang gambar.”
Juga dalam kitab Bukhari Muslim, dari Ibnu
Umar berkata: Rasulullah bersabda:
إِنَّ
الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ
لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ
“Sesungguhnya mereka yang membuat
gambar-gambar akan disiksa pada hari kiamat. Akan dikatakan kepada mereka,
“Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.” (HR. Al-Bukhari No. 5961 dan Muslim No. 5535)
Dari Ibnu Abbas, saya mendengar Rasulullah
bersabda:
مَنْ
صَوَّرَ صُورَةً فِي الدُّنْيَا كُلِّفَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يَنْفُخَ فِيهَا
الرُّوحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ
Artinya: “Barangsiapa
satu gambar di dunia, dia akan dibebani untuk meniupkan ruh padanya, sedang ia
tidak akan bisa meniupkan satu ruh.” (HR. Muttafaq Alaih)
G. HUKUM MENURUNKAN KAIN
Menurunkan kain jika bertujuan untuk kesombongan, maka
akibatnya di hari kiamat Allah tidak akan melihat kepadanya, tidak pula
mengajak bicara serta mensucikannya dan baginya azab yang pedih. Adapun jika
bukan untuk kesombongan, maka akibatnya akan disiksa bagian yang ada dibawah
mata kaki di dalam api neraka.
لَا يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى
مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا
Artinya: "Pada hari
kiamat kelak, Allah tidak akan melihat orang yang menjulurkan kain sarungnya
karena sombong." (HR. Bukhari)
H. TAUBAT
Taubat adalah keluar dari maksiat kepada Allah SWT untuk
taat kepadanya. Dan taubat itu wajib
bagi setiap mukmin.
$pkr'¯»t
úïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
(#þqç/qè?
n<Î)
«!$#
Zpt/öqs?
%·nqÝÁ¯R
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan
taubatan Nasuha (taubat yang semurni-murninya). (QS. At-Tahrim: 8)
Taubat Nasuha adalah taubat yang dikumpulkan di dalamnya
5 syarat:
1.
Ikhlas karena Allah.
2. Menyesali perbuatan dan berkeinginan keras untuk tidak berbuat lagi.
3. Segera meninggalkan maksiat.
4. Bercita-cita tidak akan kembali lagi pada perbuatan maksiat di masa
mendatang.
5.
Tidak menjadikan taubatnya berhenti sebelum di
terimanya, yaitu sebelum datang ajal atau terbitnya matahari dari barat. (HR.
Muslim, QS. An-nisa’: 18)
Judul Buku : Sifat
Wudhu & Shalat Nabi SAW
Pengarang : Syaikh
Muhammad Fadh dan Syaikh Abdul Aziz Bin Baz
Penerbit :
Pustaka Al-Kautsar
Tahun Terbit : 2011
Jumlah Halaman : 144 Halaman